Cara Mudah Mengedukasi Siswa Bijak Menggunakan Gagdet

Cara Mudah Mengedukasi Siswa Bijak Menggunakan Gagdet

Oleh: Luluk Maslukhah, S.Si, M.Pd

(Guru SMK Negeri 3 Bondowoso)

 

KETIKA berbicara tentang gadget, hampir tak bisa dipisahkan dengan internet dan dunia maya. Pesona dunia maya sungguh luar biasa. Daya pikatnya begitu menggoda hingga dapat menaklukkan semua orang. Orang Tua, muda, miskin, kaya, terpelajar maupun tidak terpelajar semuanya tak bisa menjauhkan diri dari gadget. Bahkan termasuk siswa kita.

Siswa kita saat ini lahir dengan sebutan generasi z. Generasi yang lahir antara tahun 1995-2010. Mereka lahir saat teknologi web, internet, smart phone, laptop, wifi, dan media digital telah hadir di tengah-tengah kita. Hampir dapat dipastikan sebagian besar dari mereka sangat familiar dengan gadget dan dunia maya. Sebagian orang tua terkagum-kagum dengan kepiawaian putra-putri mereka dalam mengoperasikan gadget dan berselancar di dunia maya, Namun sebaliknya tidak sedikit orang tua yang “memasang kuda-kuda” demi menjaga “keamanan” buah hatinya.

Dunia maya ibarat pasar. Segalanya ada. Mau yang baik, buruk, gratis, mahal, mudah, sulit semuanya tersedia. Semua tergantung kita, mau pilih yang mana. Tentu saja dengan segala konsekuensi yang siap kita tanggung. Bagi siswa kita, memilih konten terbaik bukanlah perkara mudah. Mengingat tidak sedikit dari mereka yang belum paham baik buruknya memanfaatkan teknologi informasi. Disinilah guru berperan penting dalam mengedukasi peserta didiknya. Tentunya dengan pola komunikasi yang mengedepankan nilai-nilai kasih sayang dan penghargaan kepada mereka.

Beberapa poin penting yang perlu disampaikan guru dalam mengenalkan baik buruk teknologi informasi, khususnya gadget dan internet kepada siswa antara lain:

Gadget dan internet bersifat netral, bisa untuk kebaikan sekaligus keburukan. Guru perlu menegaskan kepada siswa bahwa segala yang kita perbuat didunia ini selalu dimintai pertanggung jawaban oleh Allah, termasuk ketika kita mengoperasikan gadget dan internet. Standarnya adalah aturan Allah. Jika menurut Allah baik maka lakukanlah, sebaliknya jika menurut Allah buruk maka jauhilah.

Etika berkomunikasi sama pentingnya baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Karena tidak berhadapan langsung secara fisik dengan lawan bicara kita, bukan berarti kita boleh berkomunikasi tanpa etika. Demikian pula berkaitan dengan status yang kita buat di sosmed, benar-benar harus dihindari status yang bersifat sangat pribadi atau bahkan mengumbar aib diri sendiri maupun orang lain. Ingat, segala yang kita posting di dunia maya “tidak pernah bisa dihapus” dan publik bisa mengaksesnya kapan saja dan dimana saja. Allah saja selalu menjaga aib-aib kita, lalu kenapa kita sendiri yang membukanya?.

Guru perlu menyampaikan kepada peserta didik bahwa teknologi gadget dan internet merupakan pencapaian penting dalam peradaban manusia. Pencapaian ini seharusnya menjadikan manusia makin beradab. Bukan malah makin merosot akhlaknya, makin liar tingkah lakunya. Jangan sekali-kali membuka situs porno meski hanya sekedar “mengintip”. Ingat pornografi ibarat candu. Sekali mengakses akan sangat sulit menghindarinya. Belum lagi ekses yang mungkin ditimbulkan bisa membuat kita rugi dunia akhirat.

Harus disadarkan kepada peserta didik bahwa kita lebih banyak hidup di dunia nyata. Bukan didunia maya. Bercengkramalah dengan dunia maya sekedarnya saja tentunya untuk hal-hal positif. Jangan sampai kita menjadi “manusia online” yang menempatkan gadget dan internet di hati bukan di tangan.

Guru perlu menegaskan kepada peserta didik untuk menggunkan gadget dan internet hanya untuk kebaikan, seperti mengakses berita terkini untuk meningkatkan valensi diri atau memanfaatkan fitur-fitur bisnis online untuk memudahkan kita menjadi entrepreneur muda.

 

Semoga bermanfaat.

 

Salam literasi!

Bondowoso, 31 Juli 2018.

(gn/red)

redaksi